Sabtu, 29 Juni 2019

Pendakian Gunung SAGO

 Pernah dengar nama Gunung Sago?  Bagi yang biasa mendaki di Provinsi Sumatera Barat tentu pernah dengar bahkan mendakinya bukan? Gunung Sago tingginya 2.261 m diatas permukaan laut. Koordinat puncaknya pada -0.3241 lintang selatan dan 100.6733 bujur timur. Secara administrasi Gunung Sago berada di wilayah Kabupaten 50 Kota dan Kabupaten Tanah Datar.
 Bagaimana dengan rute ke puncak ?. Pada umumnya orang mengenal rute pendakian ada 3. Rute pertama lewat Nagari Situjuah Gadang Kab. 50 Kota, puncaknya ada batu besar. Disini kita sebut saja "Puncak Batu".  Disekitar batu besar ini kita dapat mendirikan tenda. Rutenya lumayan panjang dengan sumber air yang agak susah.
 Rute kedua lewat Sikabukabu, ada lagi yang menyebutnya via Kayu Kolek. Rutenya terbilang paling singkat dibandingkan dengan dua rute lain. Sumber air relativ mudah agak dekat dengan Puncak Rabuang yaitu puncak tempat mendirikan tenda.
 Rute ketiga via Sibaladuang. Rutenya menengah, lebih panjang dari rute via Sikabukabu tapi lebih singkat dari rute via Situjuah. Sumber air rute ini paling mudah karena rutenya memang melewati aliran air tapi cuma satu sama juga dengan lainnya.  Rute ini selanjutnya menuju Puncak Rabuang jadi nanti ada persimpangan diatas ketemu dengan rute Sikabukabu.
 Puncak Rabuang merupakan area camp pendakian dari  rute Sikabukabu dan Sibaladuang. Dari Puncak Rabuang ini bila hari cerah dapat memandang Kota Payakumbuh, lebih indah jika dapat malam yang bersih tanpa hujan dan kabut. Dari sini juga dapat memandang kearah "kelok 9" nun jauh disana. Sebaiknya menggunakan teropong barangkali biar lebih jelas. Juga dapat memandang kearah Gunung Bongsu. Lalu lanjut keatas sekitar 15 menit maka sampai lah di puncak tertinggi Gunung Sago.
 Adakah rute penghubung antara "Puncak Sago" dengan "Punca Batu" ?. Jauh kah jarak kedua puncak ini ? Nah, ini yang bikin penasaran. Barangkali ada pembaca yang tau dengan jawaban dari pertanyaan diatas. 
 Bagaimana dengan Pos Pendakian ke Gunung Sago? Sepertinya belum ada. Mungkin karena pendakian kesini belum terlalu banyak dibandingkan dengan pendakian ke gunung lain. Bagi yang membawa kendaraan roda dua biasanya menitipkan kendaraannya pada keluarga atau rumah masyarakat yang paling atas.
 Demikian yang dapat saya ceritakan . Kalau ada kesalahan  mohon dikoreksi di ruang komentar. Dan bagi yang akan melengkapi info tentang Sago saya ucapkan terimakasih.

Sabtu, 08 Juni 2019

Jelajah Singgalang - Tandikek 22-25 Des 2018

 Ada dua pasang gunung di Provinsi Sumatera Barat yaitu 1. Singgalang & Tandikek, 2. Talamau & Pasaman. Maksud "pasang" disini adalah dua buah gunung yang sangat berdekatan dan saling menyambung. Bagaimana di tempat lain? Kasih tau dong, karena saya belum tau. Nah karena menyambungnya dua gunung ini maka saya pikir kita bisa mendaki sekaligus dua gunung tanpa harus turun dulu ke pos lapor. Kali ini saya mau bercerita tentang pendakian ke Singgalang dan Tandikek pada hari Sabtu-Selasa, 22-25 Des 2018. 
 Setelah mengajak beberapa teman dan membuat janjian untuk berkumpul di Pasar Koto Baru, Kab. Tanah Datar. Pagi itu satu persatu kami datang ditempat yang dijanjikan. Memang sih ada teman yang berencana ikut gabung namun ada halangan sehingga tidak dapat nanjak bareng. Namun ada juga yang bergabung padahal sebelumnya tidak ada dalam pembicaraan. Tim kami kali ini terdiri dari 7 laki-laki dan 2 wanita.
 Setelah berembuk sebentar kami sepakat untuk patungan beli logistik 100rb/orang. Beli sayuran, ikan asin, cabe, bawang, minyak goreng dan lain-lain yang dianggap perlu. Sebagian dibelanjakan sebagian lagi untuk "simaksi dan parkir" serta keperluan mendadak nanti. Memang bisa belanja diatas gunung nanti? Enggak sih.
 Sebelum berangkat kami beli nasi bungkus dulu sebanyak 9 bungikus. Agar tidak repot masak nanti. 
 Sekitar jam 10:30 kami berangkat menuju Pos Lapor Pendakian Singgalang. Sekitar 10 menit sudah sampai di pos dan mendaftarkan diri dan membayar 10rb/orang. Kami juga melaporkan bahwa akan turun 3 hari lagi di Gunung Tandikek. Apa jawaban penjaga pos? "Baiklah, tapi tanggung jawab kami hanya sebatas sekitaran Telaga Dewi Gunung Singgalang. Kalau lewat itu bukan tanggung jawab kami lagi", katanya. Ups, ya begitulah. Karena kami mendaki bukan rute biasa maka saya anggap wajar saja jawaban seperti itu.
 Selesai urusan di pos lapor kami lanjutkan lagi ke tempat parkiran. Lokasinya lebih tinggi lagi dan pemandangan lumayan bagus dari sini. Disini biaya parkir sepeda motor 10rb/kendaraan.
 Sebelum berangkat kami berdo'a dulu memohon semoga perjalanan kami tidak ada halangan yang berarti. Jam 11 siang lewat sedikit kami mulai pendakian ini. Pendakian awal, dilalui sedikit susah karena jalannya sempit melewati ceruk tanah dan diatasnya ada sejenis "perdu" yang disini sebut "pimpiang" yang mengharuskan kita sering menunduk agar tak tersangkut. Ya inilah ciri khas jalur ini.
 Sekitar jam 2 siang kami sampai di tempat yang cukup luas dan ada sumber air. kami "ishoma" disini. Pada waktu makan kami hanya membuka 3 bungkus nasi saja. Padahal tadi kami beli 9 bungkus. Ya ini adalah trik kami agar tidak repot masak dan tetap nyaman mendaki. Jika perut kenyang tentu susah melanjutkan pendakian.
 Hari hampir gelap kami sampai ditempat yang dinamakan cadas. Di ketinggian sekitaran 2.650 mdpl. Kami  makan lagi dan lagi hanya 3 bungkus dikeroyok oleh 9 orang. Bekal nasi bungkus kami tinggal 3 lagi untuk malam nanti. Setelah merasa cukup kami melanjutkan perjalanan lagi dengan menghidupkan senter (headlamp) masing-masing.
 Perjalanan gelap terasa agak sulit dibanding saat terang tadi. Ditambah sedikit becek karena hujan tadi. Sesampai di tepi Telaga Dewi yang berada diketinggian sekitar 2.850 mdpl kami bertemu pendaki lain yang lebih dulu sampai dengan tenda yang sudah berdiri. Mereka dengan ramah menyapa kami dan menawarkan kami kopi panas serta mengajak mendirikan tenda disamping tenda mereka. Tapi karena ini di sisi timur sedangkan kami berencana ngecamp disisi selatan maka kami tolak secara halus. Kami melanjutkan perjalanan mengitari sekitar seperempat telaga di medan yang banyak akar dan tanah yang lembek. Sampai di tempat yang diinginkan kami segera mendirikan tenda agar tidak terlalu dingin. Biasanya kalau tidak sedang bergerak udara dingin lebih terasa dibadan. Tak lama kami sampai ternyata menyusul 2 orang pendaki yang menawarkan minuman hangat tadi. Mereka membantu kami mendirikan tenda setelah itu memberi kami sekitar 1 liter air minum hangat. Saya lupa, kopi atau teh ya? Hai teman, ingatkan saya. Jumlah tenda yang kami dirikan 4 buah tenda.
 Sembari menikmati minuman yang mereka bawa kami berkenalan. Lagi-lagi saya lupa nama mereka. Yang masih diingat, asalnya dari Prov. Jambi. Wah bersyukur sekali rasanya ketemu orang baik seperti mereka. Bagaimana teman-teman? Silahkan berbagi kisahnya tentang bertemu orang baik di ruang "komentar".
 Disini kami mulai memasak dan membuat minuman kopi sambil menghabiskan 3 bungkus nasi yang tersisa. Oh ya teman baru kami tadi menolak saat diajak makan. "Sudah selesai makan", katanya. Tidak lama kemudian mereka pamit kembali ke tenda mereka. 
 Malam itu kabut tebal sehingga tak terlihat satupun bintang di langit. Karena letih kami cepat istirahat dan tertidur. 
 Paginya udara lumayan bagus. Tak ada hujan, tak ada badai. Beberapa diantara kami menikmati pemandangan pagi yang indah dengan berpoto ria. Sebagian lagi ada yang mulai memasak untuk minum dan sarapan pagi. Kami juga membuat roti bakar dengan mentega dan susu kental manis. Hmm sedapnya. Mau?
 Mentari pagi mulai memancarkan cahaya lembutnya namun memberikan kehangatan di udara gunung yang dingin. Sementara kicau burung terdengar bersahutan. Saya rasa burung pun gembira menyambut pagi yang cerah ini. Berbicara tentang burung, saya tidak suka dengan orang menangkap atau menembak burung. Kecuali jika burung sudah menjadi hama maka wajar untuk  dikurangi. Alangkah indahnya kicauan burung jika didengar. 
 Setelah sarapan, menikmati alam sekitar telaga yang luasnya sekitar 26.760 m2 (meter persegi) dan membereskan tenda, jam 11 siang kami melanjutkan perjalanan kearah selatan yaitu menuju Gunung Tandikek. 
 Awalnya perjalanan lancar namun sekitar 10 menit kemudian kami menemui jalan buntu. Loh, kok bisa ya? Kalau begini apa bisa sesuai jadwal yang direncanakan penjelajahan ini? Smoga saja. Karena menemui jalan buntu maka saya dan tim mengeluarkan senjata "parang" untuk membuka jalan sambil berharap bertemu jalan. Mungkin jalur awal salah masuk. Kami pun agak menyebar tapi tidak terlalu jauh. Menyebar agar jalan sebenarnya cepat ditemukan. Dalam pencarian jalur ini kami bertemu dengan tumbuhan "kantong semar" atau " sicerek". Ada beraneka warna. Ada yang kuning, hijau dan kemerahan. Dan tidak dalam waktu lama kami menemukan jalan yang disekitarnya tumbuh ilalang dan tumbuhan pakis hutan. Asyik, bisa berjalan melenggang tanpa perlu menebas membuka jalan. Dan hati kami begitu gembira.
 Dalam rencana, nanti kami akan melewati sebuah telaga yang bernama Telaga Kumbang. Alhamdulillah sekitar pukul 4 sore kami sampai di Telaga Kumbang. Dari rute ke Tandikek telaga ini berada disebelah kiri kami. Luasnya sekitar 3.580 m2. Untuk mencapainya sedikit turun dari jalur. Betapa gembira hati kami telah mencapai titik ini. Karena tempatnya sempit untuk berpoto kami mesti bergantian mengambil posisi. Air telaga saat itu jernih sedikit kekuningan. Mungkin karena pelapukan daun-daun yang jatuh ke dalam telaga. Ditambah lagi ada lumut kuning menempel di batu dan pohon yang roboh didalam telaga menambah suasana telaga agak sedikit angker. Lalu kami mengambil bekal air yang mulai menipis. 
 Penjelajahan dilanjutkan kembali dengan rute sedikit menurun. Maklum nantinya kami harus menuruni lereng Gunung Singgalang untuk mencapai "Lembah Bunian". " Bunian" adalah sejenis makhluk gaib dalam cerita orang tua dahulu.
 Saat berjalan kami menemukan tanda yang bertuliskan "camp area" namun cuaca masih terang, sekitar setengah 5 sore. Kami sepakat untuk tetap melanjutkan perjalanan. Sementara jalan semakin menurun. Sekitar pukul 5 sore kami berhenti untuk mendirikan tenda. Kami khawatir nanti jalan semakin terjal dan susah mendapatkan lokasi untuk berkemah. Di dekat pohon yang besar kami putuskan disinilah tempat yang cocok. Lalu bersihkan lokasi tersebut dari rerumputan dan akar pohon nan menonjol. Namun apadaya kami tak bisa membuat dataran ideal di tempat yang miring ini. Kali ini hanya 3 tenda dapat didirikan.  Yang akhirnya tidur malam kami kurang nyenyak karena ada tonjolan akar dan tempat yang miring. Namun ada sukanya, sewaktu kami membersihkan lokasi tadi kami juga dapat menikmati pemandangan kearah Danau Maninjau. Memang tidak leluasa karena terhalang pohon-pohon namun kami tetap dapat menikmatinya.
 Paginya, dihari ketiga hari masih bersahabat dengan kami. Kilauan cahaya mentari pagi menembus disela-sela daun yang rimbun. Tidak lupa, musik alam yaitu kicau burung menemani kami menyiapkan makan pagi. Setelah beres kami segera melanjutkan perjalanan lagi dan menemukan lagi tanda bertuliskan "camp area". Apakah ini tanda yang kemarin? Saya rasa bukan, karena lokasi kemarin dekat dengan Telaga Kumbang dan agak mendatar. Sedangkan yang ini rasanya sudah jauh dari telaga dan lebih curam. Berarti ada 2 lokasi camp di lereng ini.
 Oh ya, selama perjalanan dari area camp Telaga Dewi sampai nanti ke Puncak Semu, salah satu nama puncak di Gunung Tandikek kami memberi tanda rute yang kami lalui sebagai petunjuk apabila tersesat. Tanda berupa tali yang diikatkan ke ranting pohon.
 Akhirnya sekitar jam 12:30 kami sampai di Lembah Bunian. Kami mengharapkan menemukan sumber air disini. Air minum kami sudah sangat menipis. Yang diharapkan tak ditemukan kecuali sedikit genangan air yang keruh. Salah seorang teman berusaha mengambil genangan itu dan cuma dapat sekitar segelas (250 ml). Karena haus sebagian kami tetap meminumnya tanpa dimasak terlebih dahulu.
 Perjalanan dilanjutkan dalam keadaan kekurangan air minum.  Perlahan-lahan jalan mulai menanjak walau tidak terlalu terjal. Butir embun didaun sesekali kami sambar dengan menggunakan lidah. Tidak terlalu terasa efeknya namun saya yakin ada sedikit pengaruhnya.  Sekitar satu jam perjalanan hujan pun turun dengan cukup deras. Kesempatan ini kami manfaatkan sebaik mungkin. Saya bentangkan flysheet ukuran 2m x 3m dengan mengikat keempat sudutnya ke pohon maka tertampung lah air yang segera kami salin ke botol dan jerigen. Alhamdulillah persedian air kami cukup kembali. Setelah hujan reda kami melanjutkan perjalanan sambil tetap menggunakan mantel karena tidak begitu terang. Kemungkinan masih akan turun hujan lagi.
 Dihari ketiga ini kami menemukan jalan buntu lagi. Lalu kami mundur sambil melepaskan tanda yang kami pasang tadi lalu mencari jalan lain. Setelah mencoba-coba jalan kami temukan lagi rute yang sudah ada tandanya. Kami ikuti tanda itu namun kemudian tandanya tidak selalu ada sehingga kami harus menduga kearah mana kira-kira Puncak Semu berada sambil memperhatikan kompas. Antara barat daya dan selatan, itulah tujuan kami. Mata angin apa namanya ya?
 Untunglah jalan yang kami tempuh benar sehingga sampai di Puncak Semu sekitar jam 16:30. Saat itu cuaca berkabut dan gerimis. Kami istirahat sejenak dan mulai mencari jalan menuju area camp didekat kawah Tandikek agar besok pagi bisa santai dan menikmati pagi di tepi kawah. Untuk mencapai area camp tersebut kami harus melewati lembah kecil yang banyak tumbuh sejenis pohon "pandan berduri". Pohonnya tinggi dengan akar seperti jarum menghunjam tanah. Dari daun, pohon hingga  akar serba berduri.
 Sampaikah kami segera ditempat tujuan? Berdasarkan pertimbangan cuaca berkabut dan gerimis, serta tidak ditemukan jalan yang layak untuk ditempuh, kami putuskan batal turun ke lembah tadi. Kami kembali ke Puncak Semu untuk mendirikan tenda. Karena keterbatas area, kembali hanya tiga tenda yang bisa kami dirikan.
 Urusan air, melimpah karena hujan terus turun. Air yang tergenang diatas flysheet bagaikan telaga ketiga, he he.
 Saya merasa target 4 hari perjalanan akan terlampaui karena cuaca seperti ini. Namun harapan akan cerahnya hari esok tetap ada.
 Hari ke 4, pagi, masak, minum dan sarapan. Kabut masih tebal namun sesaat datang cerah lalu kembali berkabut. Saat cerah datang kami dapat menyaksikan tepi kawah juga daerah Malalak. Tapi ya itu, hanya sejenak saja. Setelah beres berkemas kami melanjutkan lagi penjelajahan menuruni lereng hingga sampai ke lembah. Dari lembah kami nanjak lagi. Kali ini cuaca bersahabat. Tidak ada hujan dan kabut. Hanya aroma belerang semakin tercium.
 Sekitar 40 menit sampailah di tepi kawah. Kemudian kami turun masuk ke kawah Tandikek. Ya memang benar kami masuk ke kawah tapi jangan dibayangkan seperti kawah gunung-gunung berapi lainnya yang panas dan dalam. Inilah salah satu keunikan Kawah Tandikek.
 Setelah puas bermain di dalam kawah kami mengabadikan moment di sekitaran kawah hingga bertemu jalan turun di sisi timur. Terus turun hingga Rambu 28. Disini kami masak dan makan siang. Sekitar jam 4 sore kami turun menuju pos lapor Pendakian Tandikek. Sekitar jam 8 malam sampai di pos dan istirahat di warung dekat pos sambil minum teh atau kopi hangat dan ngemil kue kering yang ada di warung tersebut.
 Dari tadi sekitar jam 7 malam kami sudah dinanti oleh teman yang sengaja menjemput kami untuk mengantar kami di tempat parkir 3 hari yang lalu.
 Dengan menggunakan mobil bak terbuka (L300) kami menikmati guncangan perjalanan bagaikan dibuai. Sementara dari arah Gunung Marapi kelihatan terang
 Sepertinya rembulan akan segera muncul dibalik gunung tersebut.  Malam ini cuaca begitu indah. Gemerlap bintang disegala arah. Oh andaikan ini terjadi saat 3 malam diatas gunung, betapa lengkapnya kegembiraan yang kami rasakan.
 Sebelum sampai di tempat parkiran motor , bulan sudah sepenuhnya muncul. Menambah cerahnya malam.
 Tibalah saatnya kami berpisah. Walau berpisah namun rasa persahabatan semakin dekat setelah 4 hari berjalan bersama. Slamat bepisah teman. Smoga nanti kita dapat melakukan perjalanan bersama kembali.
 Terima kasih juga kepada teman yang telah menjemput kami sehingga kami tidak perlu bersusah payah berjalan kaki lagi menuju tempat parkir.
 Sampai jumpa pada kisah lainnya.
 Sekian dan terimakasih.

Jumat, 31 Mei 2019

Pendakian Gunung Tandikek 2.438 mdpl

  Pernah dengar nama Gunung Tandikek atau Tandikat? Mungkin sebagian pembaca pernah mendengar nama gunung ini. Lalu timbul pertanyaan lagi, apakah pernah mendaki gunung ini? Sama dengan jawaban diatas, mungkin sebagian sudah pernah mendakinya.
 Gunung Tandikek terletak di 3 kabupaten yaitu Kab. Agam, Kab. Padang Pariaman dan Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat.
 Kali ini saya ingin bercerita tentang pendakian ke G. Tandikek beserta teman-teman baru yang dikenal lewat whatsapp dan facebook bahkan kenal di tempat pada tanggal 27-28 April 2019.
 Peralatan pendakian yang saya bawa kali ini adalah sebuah tenda muat 2 orang, 1 sleeping bag, 2 matras, 2 sendok, 2 senter kepala, 1 cangkir, 1 cooking set, 1 tabung gas kecil tanpa kompor dan 1 flysheet. Peralatan pendakian sangat penting bagi saya dan tentunya setiap pendaki juga berfikir seperti saya.
 Titik kumpul pendakian ini di Pasar Koto Baru, Kec. X Koto, Kab. Tanah Datar. Setelah berkumpul semuanya sebanyak 14 orang, 1 perempuan dan 13 laki-laki kami berangkat menggunakan sepeda motor menuju Pos Pendakian Tandikek yang terletak di Jorong Gantiang memakan waktu sekitar 30 menit. Waktu masih di rumah saya menyangka sekitar 8 orang yang akan nanjak ke G. Tandikek. Ini adalah sebuah kejutan sebagai ganti kekecewaan terlambatnya pendakian.
 Bagaimana pembaca? Sering mengalami molornya waktu dari yang direncanakan?  Kata orang managemen perjalanan perlu dipelajari agar sebuah perjalanan lancar. Hidup memang harus terus belajar.
 Lupa nyatat, sekitar jam 14:45 pendakian dimulai. Oh ya hampir lupa, tadi setelah mendaftarkan diri di pos kami diminta oleh penjaga pos pendakian untuk membawa turun sampah selama pendakian. Yap, pendaki memang harus menjaga kebersihan gunung. Setuju?
 Di pos kami membayar simaksi Rp. 10.000/orang dan Rp. 10.000/motor. kami bayar perpribadi karena tidak punya sponsor, he he.
 Perjalanan diawali dengan jalan yang relativ datar dan menyusuri irigasi yang memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Kemudian sampai di sebuah sungai kami istirahat sekitar 30 menit. Kemudian perjalanan dilanjutkan lagi dengan kontur tanah yang mulai menanjak sesekali ada sedikit menurun, bonus bagi yang letih. Waktu kami mau berangkat dari sungai ada 4 pendaki lain yang baru sampai dan mau istirihat juga disini.
 Sekitar jam 18:20 kami istirahat lagi sambil makan malam. Persediaan air minum sudah menipis. Karena saat nanjak ini banyak yang kehausan dan sering minum sedangkan bekal air sedikit. Ini salah satu yang kurang kami antisipasi . Saya pribadi membawa air mineral ukuran 450 ml dua botol. Satu botol di dalam ransel satu botol lagi disematkan di saku samping ransel.
 Jam 21:30 kami sampai di Rambu 25 (R-25). Tempat ini merupakan area camp dan sumber air. 4 orang dari kami memutuskan untuk nge-camp disini. Sedangkan yang lain termasuk saya berencana ngecamp di R-28. Oh ya sebelum kami tiba di R-25 sudah ada 3 tenda pendaki lain yang terpasang.
  Jam 22:10 kami sampai di R-28 . Di dalam gelap diterangi oleh senter kami mendirikan tenda kemudian masak setelah masak makan dan minum. Kemudian satu per satu kami mulai tertidur.
 Esok paginya kami bangun dengan diiringi kicau burung yang riuh. Hmm, suasana alam yang damai dan asri. Ada yang mengambil air di bawah, sekitar 15 menit pergi pulang, ada yang memasak nasi dan ada juga yang membuat minuman kopi manis.
 Setelah semuanya beres kami lanjutkan pendakian menuju puncak. Jumlah kami 10 orang tanpa menunggu teman 4 orang lagi yang ngecamp di R-25. Sampai di puncak atau lebih tepatnya di bibir kawah sebelah timur dengan cuaca yang cerah bikin hati begitu senang. Terlihat dari wajah-wajah ceria teman semuanya. Maklum, pertama kali ke G. Tandikek langsung dapat cuaca cerah. Para pembaca pasti bisa menduga apa kegiatan kami selanjutnya. Ayo coba terka! Yap, betul, kami berpoto ria sambil menikmati pemandangan yang bagus. Di depan kami ada kawah yang dalam dengan sedikit mengeluarkan asap belerang disisi kawah sebelah utara. Setelah puas berpoto disini saya mengajak teman untuk berpindah tempat ke area camp yang tidak jauh letak nya dari tempat ini. Sebagian teman belum mau beranjak dari tempat semula. He he, terpukau kah atau merasa sudah cukup sampai disini sudah terpuaskan batinnya. Yang ikut bergeser ke lokasi camp dapat memandang kearah timur dengan latar G. Marapi yang menjulang tinggi di seberang sana.
 Setelah puas berpoto disini saya mengajak teman-teman untuk turun ke kawah. Akhirnya hanya kami berempat saja yang turun. Oh ya, dari area camp dan jalan turun ke kawah kami menemukan Bunga Edelweis. Sungguh saya merasa gembira menemukan bunga ini dan tidak lupa untuk mengabadikan menggunakan kamera hp teman. Setelah kami lanjut turun ke kawah. Di dasar kawah ada genangan air yang jernih dan sejuk. Wow, betapa nyamannya berjalan disini. Genangan air setinggi lutut paling tinggi ini kami nikmati dengan cara berjalan dan mainkan airnya seperti masa kecil dulu. Lalu kami menuju goa yang terletak di dasar kawah sebelah barat. Enggak lama disini karena aroma belerang yang pekat. Kembali kami bermain air sambil berjalan ke arah kami turun tadi. Karena 6 teman menunggu diatas kami segera keatas dan lanjut lagi turun ke tenda yang kami tinggalkan di R-28. Dan memasak untuk makan siang. Saat kami turun hampir sampai ke tenda kami berpapasan dengan 4 teman yang ngecamp di R-25.
 Di R-28 kami makan, minum kopi dan istirahat cukup lama. Lalu berkemas dan turun sekitar jam 4 sore. Bahkan kami turun bersama kembali dengan 4 teman yang ternyata hanya sebentar di puncak tanpa masuk ke kawah. Di R-25 mereka istirahat dan mau masak. Karena kami telah makan dan cukup istirahat kami pamit untuk lebih dulu kembali ke posko. Mereka menyilahkan kami duluan turun.
 Dalam perjalanan turun kami kemalaman lagi. Sementara senter ada yang semakin redup. Beberapa teman ada juga yang tidak membawa senter. Singkat cerita, sekitar jam 19:06 kami sampai di sungai dan membersihkan kaki, sandal dan sepatu ala kadarnya. Dan sampai di pos sekitar jam 20:15. Cari warung untuk minum dan makan kue / roti seadanya. Setelah puas puas kami lanjut pulang. Ada yang ke Padang, namanya Fadli, ada yang ke tempat kost di Kubang Putih, dan paling banyak ke Maninjau.
 Perpisahan dimalam hari, begitulah akhir ceritanya.