Ada dua pasang gunung di Provinsi Sumatera Barat yaitu 1. Singgalang & Tandikek, 2. Talamau & Pasaman. Maksud "pasang" disini adalah dua buah gunung yang sangat berdekatan dan saling menyambung. Bagaimana di tempat lain? Kasih tau dong, karena saya belum tau. Nah karena menyambungnya dua gunung ini maka saya pikir kita bisa mendaki sekaligus dua gunung tanpa harus turun dulu ke pos lapor. Kali ini saya mau bercerita tentang pendakian ke Singgalang dan Tandikek pada hari Sabtu-Selasa, 22-25 Des 2018.
Setelah mengajak beberapa teman dan membuat janjian untuk berkumpul di Pasar Koto Baru, Kab. Tanah Datar. Pagi itu satu persatu kami datang ditempat yang dijanjikan. Memang sih ada teman yang berencana ikut gabung namun ada halangan sehingga tidak dapat nanjak bareng. Namun ada juga yang bergabung padahal sebelumnya tidak ada dalam pembicaraan. Tim kami kali ini terdiri dari 7 laki-laki dan 2 wanita.
Setelah berembuk sebentar kami sepakat untuk patungan beli logistik 100rb/orang. Beli sayuran, ikan asin, cabe, bawang, minyak goreng dan lain-lain yang dianggap perlu. Sebagian dibelanjakan sebagian lagi untuk "simaksi dan parkir" serta keperluan mendadak nanti. Memang bisa belanja diatas gunung nanti? Enggak sih.
Sebelum berangkat kami beli nasi bungkus dulu sebanyak 9 bungikus. Agar tidak repot masak nanti.
Sekitar jam 10:30 kami berangkat menuju Pos Lapor Pendakian Singgalang. Sekitar 10 menit sudah sampai di pos dan mendaftarkan diri dan membayar 10rb/orang. Kami juga melaporkan bahwa akan turun 3 hari lagi di Gunung Tandikek. Apa jawaban penjaga pos? "Baiklah, tapi tanggung jawab kami hanya sebatas sekitaran Telaga Dewi Gunung Singgalang. Kalau lewat itu bukan tanggung jawab kami lagi", katanya. Ups, ya begitulah. Karena kami mendaki bukan rute biasa maka saya anggap wajar saja jawaban seperti itu.
Selesai urusan di pos lapor kami lanjutkan lagi ke tempat parkiran. Lokasinya lebih tinggi lagi dan pemandangan lumayan bagus dari sini. Disini biaya parkir sepeda motor 10rb/kendaraan.
Sebelum berangkat kami berdo'a dulu memohon semoga perjalanan kami tidak ada halangan yang berarti. Jam 11 siang lewat sedikit kami mulai pendakian ini. Pendakian awal, dilalui sedikit susah karena jalannya sempit melewati ceruk tanah dan diatasnya ada sejenis "perdu" yang disini sebut "pimpiang" yang mengharuskan kita sering menunduk agar tak tersangkut. Ya inilah ciri khas jalur ini.
Sekitar jam 2 siang kami sampai di tempat yang cukup luas dan ada sumber air. kami "ishoma" disini. Pada waktu makan kami hanya membuka 3 bungkus nasi saja. Padahal tadi kami beli 9 bungkus. Ya ini adalah trik kami agar tidak repot masak dan tetap nyaman mendaki. Jika perut kenyang tentu susah melanjutkan pendakian.
Hari hampir gelap kami sampai ditempat yang dinamakan cadas. Di ketinggian sekitaran 2.650 mdpl. Kami makan lagi dan lagi hanya 3 bungkus dikeroyok oleh 9 orang. Bekal nasi bungkus kami tinggal 3 lagi untuk malam nanti. Setelah merasa cukup kami melanjutkan perjalanan lagi dengan menghidupkan senter (headlamp) masing-masing.
Perjalanan gelap terasa agak sulit dibanding saat terang tadi. Ditambah sedikit becek karena hujan tadi. Sesampai di tepi Telaga Dewi yang berada diketinggian sekitar 2.850 mdpl kami bertemu pendaki lain yang lebih dulu sampai dengan tenda yang sudah berdiri. Mereka dengan ramah menyapa kami dan menawarkan kami kopi panas serta mengajak mendirikan tenda disamping tenda mereka. Tapi karena ini di sisi timur sedangkan kami berencana ngecamp disisi selatan maka kami tolak secara halus. Kami melanjutkan perjalanan mengitari sekitar seperempat telaga di medan yang banyak akar dan tanah yang lembek. Sampai di tempat yang diinginkan kami segera mendirikan tenda agar tidak terlalu dingin. Biasanya kalau tidak sedang bergerak udara dingin lebih terasa dibadan. Tak lama kami sampai ternyata menyusul 2 orang pendaki yang menawarkan minuman hangat tadi. Mereka membantu kami mendirikan tenda setelah itu memberi kami sekitar 1 liter air minum hangat. Saya lupa, kopi atau teh ya? Hai teman, ingatkan saya. Jumlah tenda yang kami dirikan 4 buah tenda.
Sembari menikmati minuman yang mereka bawa kami berkenalan. Lagi-lagi saya lupa nama mereka. Yang masih diingat, asalnya dari Prov. Jambi. Wah bersyukur sekali rasanya ketemu orang baik seperti mereka. Bagaimana teman-teman? Silahkan berbagi kisahnya tentang bertemu orang baik di ruang "komentar".
Disini kami mulai memasak dan membuat minuman kopi sambil menghabiskan 3 bungkus nasi yang tersisa. Oh ya teman baru kami tadi menolak saat diajak makan. "Sudah selesai makan", katanya. Tidak lama kemudian mereka pamit kembali ke tenda mereka.
Malam itu kabut tebal sehingga tak terlihat satupun bintang di langit. Karena letih kami cepat istirahat dan tertidur.
Paginya udara lumayan bagus. Tak ada hujan, tak ada badai. Beberapa diantara kami menikmati pemandangan pagi yang indah dengan berpoto ria. Sebagian lagi ada yang mulai memasak untuk minum dan sarapan pagi. Kami juga membuat roti bakar dengan mentega dan susu kental manis. Hmm sedapnya. Mau?
Mentari pagi mulai memancarkan cahaya lembutnya namun memberikan kehangatan di udara gunung yang dingin. Sementara kicau burung terdengar bersahutan. Saya rasa burung pun gembira menyambut pagi yang cerah ini. Berbicara tentang burung, saya tidak suka dengan orang menangkap atau menembak burung. Kecuali jika burung sudah menjadi hama maka wajar untuk dikurangi. Alangkah indahnya kicauan burung jika didengar.
Setelah sarapan, menikmati alam sekitar telaga yang luasnya sekitar 26.760 m2 (meter persegi) dan membereskan tenda, jam 11 siang kami melanjutkan perjalanan kearah selatan yaitu menuju Gunung Tandikek.
Awalnya perjalanan lancar namun sekitar 10 menit kemudian kami menemui jalan buntu. Loh, kok bisa ya? Kalau begini apa bisa sesuai jadwal yang direncanakan penjelajahan ini? Smoga saja. Karena menemui jalan buntu maka saya dan tim mengeluarkan senjata "parang" untuk membuka jalan sambil berharap bertemu jalan. Mungkin jalur awal salah masuk. Kami pun agak menyebar tapi tidak terlalu jauh. Menyebar agar jalan sebenarnya cepat ditemukan. Dalam pencarian jalur ini kami bertemu dengan tumbuhan "kantong semar" atau " sicerek". Ada beraneka warna. Ada yang kuning, hijau dan kemerahan. Dan tidak dalam waktu lama kami menemukan jalan yang disekitarnya tumbuh ilalang dan tumbuhan pakis hutan. Asyik, bisa berjalan melenggang tanpa perlu menebas membuka jalan. Dan hati kami begitu gembira.
Dalam rencana, nanti kami akan melewati sebuah telaga yang bernama Telaga Kumbang. Alhamdulillah sekitar pukul 4 sore kami sampai di Telaga Kumbang. Dari rute ke Tandikek telaga ini berada disebelah kiri kami. Luasnya sekitar 3.580 m2. Untuk mencapainya sedikit turun dari jalur. Betapa gembira hati kami telah mencapai titik ini. Karena tempatnya sempit untuk berpoto kami mesti bergantian mengambil posisi. Air telaga saat itu jernih sedikit kekuningan. Mungkin karena pelapukan daun-daun yang jatuh ke dalam telaga. Ditambah lagi ada lumut kuning menempel di batu dan pohon yang roboh didalam telaga menambah suasana telaga agak sedikit angker. Lalu kami mengambil bekal air yang mulai menipis.
Penjelajahan dilanjutkan kembali dengan rute sedikit menurun. Maklum nantinya kami harus menuruni lereng Gunung Singgalang untuk mencapai "Lembah Bunian". " Bunian" adalah sejenis makhluk gaib dalam cerita orang tua dahulu.
Saat berjalan kami menemukan tanda yang bertuliskan "camp area" namun cuaca masih terang, sekitar setengah 5 sore. Kami sepakat untuk tetap melanjutkan perjalanan. Sementara jalan semakin menurun. Sekitar pukul 5 sore kami berhenti untuk mendirikan tenda. Kami khawatir nanti jalan semakin terjal dan susah mendapatkan lokasi untuk berkemah. Di dekat pohon yang besar kami putuskan disinilah tempat yang cocok. Lalu bersihkan lokasi tersebut dari rerumputan dan akar pohon nan menonjol. Namun apadaya kami tak bisa membuat dataran ideal di tempat yang miring ini. Kali ini hanya 3 tenda dapat didirikan. Yang akhirnya tidur malam kami kurang nyenyak karena ada tonjolan akar dan tempat yang miring. Namun ada sukanya, sewaktu kami membersihkan lokasi tadi kami juga dapat menikmati pemandangan kearah Danau Maninjau. Memang tidak leluasa karena terhalang pohon-pohon namun kami tetap dapat menikmatinya.
Paginya, dihari ketiga hari masih bersahabat dengan kami. Kilauan cahaya mentari pagi menembus disela-sela daun yang rimbun. Tidak lupa, musik alam yaitu kicau burung menemani kami menyiapkan makan pagi. Setelah beres kami segera melanjutkan perjalanan lagi dan menemukan lagi tanda bertuliskan "camp area". Apakah ini tanda yang kemarin? Saya rasa bukan, karena lokasi kemarin dekat dengan Telaga Kumbang dan agak mendatar. Sedangkan yang ini rasanya sudah jauh dari telaga dan lebih curam. Berarti ada 2 lokasi camp di lereng ini.
Oh ya, selama perjalanan dari area camp Telaga Dewi sampai nanti ke Puncak Semu, salah satu nama puncak di Gunung Tandikek kami memberi tanda rute yang kami lalui sebagai petunjuk apabila tersesat. Tanda berupa tali yang diikatkan ke ranting pohon.
Akhirnya sekitar jam 12:30 kami sampai di Lembah Bunian. Kami mengharapkan menemukan sumber air disini. Air minum kami sudah sangat menipis. Yang diharapkan tak ditemukan kecuali sedikit genangan air yang keruh. Salah seorang teman berusaha mengambil genangan itu dan cuma dapat sekitar segelas (250 ml). Karena haus sebagian kami tetap meminumnya tanpa dimasak terlebih dahulu.
Perjalanan dilanjutkan dalam keadaan kekurangan air minum. Perlahan-lahan jalan mulai menanjak walau tidak terlalu terjal. Butir embun didaun sesekali kami sambar dengan menggunakan lidah. Tidak terlalu terasa efeknya namun saya yakin ada sedikit pengaruhnya. Sekitar satu jam perjalanan hujan pun turun dengan cukup deras. Kesempatan ini kami manfaatkan sebaik mungkin. Saya bentangkan flysheet ukuran 2m x 3m dengan mengikat keempat sudutnya ke pohon maka tertampung lah air yang segera kami salin ke botol dan jerigen. Alhamdulillah persedian air kami cukup kembali. Setelah hujan reda kami melanjutkan perjalanan sambil tetap menggunakan mantel karena tidak begitu terang. Kemungkinan masih akan turun hujan lagi.
Dihari ketiga ini kami menemukan jalan buntu lagi. Lalu kami mundur sambil melepaskan tanda yang kami pasang tadi lalu mencari jalan lain. Setelah mencoba-coba jalan kami temukan lagi rute yang sudah ada tandanya. Kami ikuti tanda itu namun kemudian tandanya tidak selalu ada sehingga kami harus menduga kearah mana kira-kira Puncak Semu berada sambil memperhatikan kompas. Antara barat daya dan selatan, itulah tujuan kami. Mata angin apa namanya ya?
Untunglah jalan yang kami tempuh benar sehingga sampai di Puncak Semu sekitar jam 16:30. Saat itu cuaca berkabut dan gerimis. Kami istirahat sejenak dan mulai mencari jalan menuju area camp didekat kawah Tandikek agar besok pagi bisa santai dan menikmati pagi di tepi kawah. Untuk mencapai area camp tersebut kami harus melewati lembah kecil yang banyak tumbuh sejenis pohon "pandan berduri". Pohonnya tinggi dengan akar seperti jarum menghunjam tanah. Dari daun, pohon hingga akar serba berduri.
Sampaikah kami segera ditempat tujuan? Berdasarkan pertimbangan cuaca berkabut dan gerimis, serta tidak ditemukan jalan yang layak untuk ditempuh, kami putuskan batal turun ke lembah tadi. Kami kembali ke Puncak Semu untuk mendirikan tenda. Karena keterbatas area, kembali hanya tiga tenda yang bisa kami dirikan.
Urusan air, melimpah karena hujan terus turun. Air yang tergenang diatas flysheet bagaikan telaga ketiga, he he.
Saya merasa target 4 hari perjalanan akan terlampaui karena cuaca seperti ini. Namun harapan akan cerahnya hari esok tetap ada.
Hari ke 4, pagi, masak, minum dan sarapan. Kabut masih tebal namun sesaat datang cerah lalu kembali berkabut. Saat cerah datang kami dapat menyaksikan tepi kawah juga daerah Malalak. Tapi ya itu, hanya sejenak saja. Setelah beres berkemas kami melanjutkan lagi penjelajahan menuruni lereng hingga sampai ke lembah. Dari lembah kami nanjak lagi. Kali ini cuaca bersahabat. Tidak ada hujan dan kabut. Hanya aroma belerang semakin tercium.
Sekitar 40 menit sampailah di tepi kawah. Kemudian kami turun masuk ke kawah Tandikek. Ya memang benar kami masuk ke kawah tapi jangan dibayangkan seperti kawah gunung-gunung berapi lainnya yang panas dan dalam. Inilah salah satu keunikan Kawah Tandikek.
Setelah puas bermain di dalam kawah kami mengabadikan moment di sekitaran kawah hingga bertemu jalan turun di sisi timur. Terus turun hingga Rambu 28. Disini kami masak dan makan siang. Sekitar jam 4 sore kami turun menuju pos lapor Pendakian Tandikek. Sekitar jam 8 malam sampai di pos dan istirahat di warung dekat pos sambil minum teh atau kopi hangat dan ngemil kue kering yang ada di warung tersebut.
Dari tadi sekitar jam 7 malam kami sudah dinanti oleh teman yang sengaja menjemput kami untuk mengantar kami di tempat parkir 3 hari yang lalu.
Dengan menggunakan mobil bak terbuka (L300) kami menikmati guncangan perjalanan bagaikan dibuai. Sementara dari arah Gunung Marapi kelihatan terang
Sepertinya rembulan akan segera muncul dibalik gunung tersebut. Malam ini cuaca begitu indah. Gemerlap bintang disegala arah. Oh andaikan ini terjadi saat 3 malam diatas gunung, betapa lengkapnya kegembiraan yang kami rasakan.
Sebelum sampai di tempat parkiran motor , bulan sudah sepenuhnya muncul. Menambah cerahnya malam.
Tibalah saatnya kami berpisah. Walau berpisah namun rasa persahabatan semakin dekat setelah 4 hari berjalan bersama. Slamat bepisah teman. Smoga nanti kita dapat melakukan perjalanan bersama kembali.
Terima kasih juga kepada teman yang telah menjemput kami sehingga kami tidak perlu bersusah payah berjalan kaki lagi menuju tempat parkir.
Sampai jumpa pada kisah lainnya.
Sekian dan terimakasih.